Iklan

.

Senin, 20 Oktober 2014

Irzen Hawer


Irzen Hawer, Guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMA Negeri 1 Batipuh, Kabupaten Tanah Datar tidak pernah bermimpi bisa melahirkan dua novel dalam waktu relatif singkat, enam bulan. Padahal, di usianya yang sudah beranjak 50 tahun itu, sebelumnya tidak pernah terpikir akan menulis. Setelah dua novel itu benar-benar lahir baru ia termenung, ke mana saja ia selama ini sehingga tidak satu pun karya tulis yang ia miliki.

“Saya benar-benar merasa merugi, di usia yang sudah tua ini baru mau menulis. Andai dulu saya menulis, sejak usia muda, mungkin sudah puluhan buku yang saya hasilkan,” sesal Irzen Hawer dalam kesempatan berbincang-bincang dengan saya beberapa waktu lalu di Rumah Puisi Taufiq Ismail, Nagari Aie Angek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar.

Sarjana Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Padang tamatan 1985 ini, telah merampungkan dua novel berkultur Minangkabau (berwarna lokal Padang Panjang) yang masing-masingnya berjudul “Cinta di Kota Serambi” (254 halaman dan sedang dalam proses cetak oleh Penerbit Kuflet Publishing Padang Panjang) dan “Gerhana di Kota Serambi” (233 halaman).

Apa yang memotivasi Irzen Hawer hingga ia menulis novel? Kepada saya ia bercerita, semangat menulisnya mulai muncul ketika pada Desember 2008 lalu ia berkesempatan mengikuti pelatihan Membaca, Menulis dan Apresiasi Sastra (MMAS) yang diadakan Rumah Puisi Taufiq Ismail untuk guru-guru Bahasa dan Sastra Indonesia se Kabupaten Tanah Datar. Selama sehari menggali ilmu dari penyair senior Taufiq Ismail dan novelis Ahmad Tohari, ia mendapatkan pelajaran berharga bahwa budaya membaca akan menumbuhkan semangat menulis di kalangan guru. Ahmad Tohari memberikan wejangan, guru yang bijak adalah guru yang tidak saja memberikan teori di hadapan murid-muridnya, namun juga menuliskan apa yang dibicarakannya.

Menyimak Ahmad Tohari itu, Irzen Hawer terenyuh lalu sepulangnya dari pelatihan di Rumah Puisi, beberapa malam ia merenung. Jiwanya merasa resah dan gelisah. Kadang kala ia tidak tidur semalaman sehingga di pagi hari saat masuk kelas wajahnya kusut masai. Keadaan itu tentu saja tidak sehat. Kecamuk batinnya yang meronta membawanya pada sebuah keputusan bersejarah dalam hidupnya, yaitu mulai 1 Januari 2009 ia tekadkan menulis novel. Targetnya satu tahun satu novel. Namun dia terkejut melihat hasilnya, karena sepanjang 2009 ia telah merampungkan hampir 3 buah novel.

“Ini lompatan luar biasa dalam hidup saya. Saya tidak menyangka akan seproduktif ini menulis, yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya. Tapi semua ini terjadi, juga karena selama puluhan tahun saya membaca,” kata Irzen Hawer.

0 komentar:

Posting Komentar

Guru Tulis





Followers