Tampilkan postingan dengan label Peserta TSN 2014. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peserta TSN 2014. Tampilkan semua postingan
Kamis, 30 Oktober 2014
Susanti Rahim
Nama lengkap Susanti Rahim, lebih akrab di panggil Cece atau Susan. Lahir di sebuah pulau terapung yang dinamai Selatpanjang, salah satu pulau kecil di Riau. Berulang tahun pada 11 Oktober. Memiliki hobi Membaca, Mendengar, dan bermain. Pernah mengikuti pelatihan penulisan cerpen yang diadakan Balai Bahasa Sumatra Barat, Darman Moenir dan Gus tf Sakai sebagai mentor.
Arbi Syafri Tanjung
Arbi Syafri Tanjung, lahir di Medan 6 Februari
1981. Saat ini sedang menyelesaikan studi S2 Ilmu Sejarah di Universitas
Andalas-Padang. Pembimbing Kelas Menulis di Pesantren Sumatera Thawalib Parabek
Bukittinggi dan SMAN 1 Bonjol. Alamat: SMPN 3 Bonjol-Pasaman,email
:tanjungarbi068@gmail.com dan no.hp 0852-7248-0478Rabu, 29 Oktober 2014
Kurnia Hadinata
Kurnia Hadinata dilahirkan 17 Desember 1981 silam di kota budaya Batu Sangkar, Sumatera Barat. Merupakan alumnus PROGRAM
Pascasarjana Universitas Negeri Padang (UNP)
Semasa kuliah sibuk menggiatkan diri dalam setiap pergerakan dan aksi mahasiswa, aktif dalam aktivitas sastra, teater, seni rupa dan film. Secara pribadi pernah menerbitkan buku kumpulan puisi yang bertajukAubade Pesta Hujan (2003). Musim Hujan yang Menggugurkan Daun-daun Puisi (2007), Lelaki yang Kawin dengan Orang Bunian (Kumpulan Cerpen, 2007) dan sebuah novel Bianglala di Bukit Barisan(2008) Menjadi wartawan lepas di beberapa media massa diantaranya Harian Haluan Padang (2004-2005) menjadi Koresponden LKBN ANTARA (2005-2006).
Menjadi nominator Lomba Menulis Cerpen Tingkat Nasional pada Festival Kreativitas Pemuda 2006 kerjasama Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda Kementrian Pemuda dan Olah Raga RI dengan Creative Writing Institute (CWI). Juara 3 Lomba menulis Essai Pendidikan Antar Wartawan Se- Sumbar tahun 2009. Peringkat 3 Lomba Menulis Cerpen Tingkat Guru Se- Sumbar Tahun 2009. Nominator 20 Cerpen Favorit Lomba Menulis Cerpen Remaja Rhoto Award 2009. Peringkat Runner-Up Lomba Menulis Cerpen (LMCP) tingkat Nasional antar guru SMA/SMK tahun 2009. Tahun 2010 bukunya “Ayo Membuat Film Cerita Pendek” berhasil meraih Juara 1 Sayembara Menulis Buku Pusat Perbukuan Nasional Kemendiknas. Juara 1 Lomba Puisi tentang Kota Padang 2011, Juara 1 Lomba Puisi FBS FK UI dan cerpennya Binatu terhimpun dalam antologi Jilfest 2011 “Sejuta Warna di Langit Jakarta”. Saat ini kegiatan lain yang dilakukan yaitu menggiatkan diri mengelola rumah baca dan sanggar menulis bagi anak miskin dan pemuda putus sekolah, sekaligu sebagai staf pengajar di SMPN 2 Panti Kab. Pasaman-Sumbar. Sekarang penulis menetap di Jl. Pasar Inpres Air Terbit Panti No 31, Kecamatan Panti Kabupaten Pasaman, Sumbar kode pos 26352 Email : Hadinata_kurnia@yahoo. Com, Kontak Person (HP) 081363928177
Hakimah Rahmah Sari
![]() |
Hakimah Rahmah Sari, kelahiran 11 Januari 1994 di Saniangbaka, Kab. Solok. Alumni MAN/MAKN Koto Baru Padang Panjang. Sekarang kuliah di jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Menulis puisi dan cerpen. Tulisannya pernah dimuat di Koran Tempo, Padang Ekspres, Haluan, Singgalang dan beberapa koran elektronik. Tulisannya juga tergabung dalam antologi puisi Epitaf Arau, Narasi Tembuni, Diverse, Kuda Pacuan, Menyirat Cinta Haqiqi, dan Potongan Tangan di Kursi Tuhan (cerpen). Berkegiatan di LPK, Sajaksore, dan Ranah Teater.
![]() |
| Hakimah Rahmah Sari |
Muhammad Subhan
MUHAMMAD SUBHAN, lahir di
Medan, 3 Desember 1980. Berdarah Aceh-Minang. Menulis novel, cerpen, esai dan
puisi. Sejak tahun 2000 menggeluti dunia jurnalistik dan bekerja sebagai wartawan
di beberapa suratkabar di Padang, di antaranya; SKM Gelora, Gelar Reformasi, Media Watch (2000-2003), Harian Mimbar Minang (2003-2004), Harian Haluan (2004-2010), editor Harian Online Kabar Indonesia yang
berpusat di Belanda (2007-2010), Majalah Islam SABILI (2008-2012), Jurnal Kuflet.com (2010-sekarang), dan menulis lepas di beberapa media di Sumatera Barat dan Jakarta.
Pendidikan formalnya ia selesaikan di Sekolah Tinggi
Agama Islam (STAI) Imam Bonjol Padangpanjang, Jurusan Komunikasi Penyiaran
Islam (KPI). SMA, SMP dan SD ia tamatkan di Lhokseumawe, Aceh Utara. Selebih itu
ia belajar secara otodidak dan aktif dalam kegiatan-kegiatan diskusi
kepenulisan.
Novelnya yang telah terbit berjudul Rinai Kabut Singgalang (2011). Saat ini sedang mempersiapkan
penerbitan novel keduanya. Buku puisi tunggalnya berjudul Sajak-Sajak Dibuang Sayang (2014). Sejumlah karya lain terkumpul dalam
antologi bersama, di antaranya; Merengkuh
Asa (Antologi Puisi Penyair Aceh, 2014), Fesbuk (Antologi Cerpen, 2012), Bukittinggi,
Ambo di Siko (Antologi Puisi, 2012), Menyirat
Cinta Hakiki (Antologi Puisi Malaysia-Indonesia, 2012), Kado untuk Jepang (Antologi FTS, 2011), Lautan Sajadah (Antologi Puisi Mahasiswa UMSB, 2009), Ponari for President (Antologi Puisi
Penyair Indonesia, 2009), Musibah Gempa
Padang (Antologi Puisi Penyair Malaysia-Indonesia, 2009), G30S: Gempa Padang (Antologi Puisi, 2009),
Hujan Batu Buruh Kita (Nominator Liputan
Buruh-AJI Indonesia, 2009), Melawan
Kemiskinan dari Nagari (Buku Bappeda, 2009), dll.
Selain itu, cerpen, puisi, esainya juga diterbitkan di
sejumlah media, di antaranya Harian Serambi
Indonesia (Aceh), Waspada
(Medan), Haluan, Singgalang, Padang
Ekspres, Koran Padang, Metro Andalas (Padang), Rakyat Sumbar (Bukittinggi), Sabili
(Jakarta), Kaltim Post (Banjarmasin),
dll.
Ia sering
diundang menjadi juri
dalam lomba-lomba kepenulisan tingkat lokal dan nasional serta menjadi pembicara di berbagai
pelatihan/seminar tentang kepenulisan/jurnalistik di sekolah-sekolah dan
perguruan tinggi. Pernah bekerja dan “studi sastra” di Rumah Puisi Taufiq Ismail Aie Angek,
Kabupaten Tanah Datar sekaligus menjadi Instruktur Sanggar Sastra Siswa Rumah
Puisi (lebih kurang 3,7 tahun).
Sekarang memimpin Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia,
sebuah komunitas penulisan nasional yang berpusat di Pare, Kediri, Jawa Timur. Berdomisili di pinggir Kota Padangpanjang.
Ia dapat dihubungi di nomor Hp.
0813 7444 2075 , email:
rinaikabutsinggalang@yahoo.com, facebook:
“Muhammad Subhan”. (*)
Maya Lestari Gf
Nama :
Maya Lestari Gf.
TTL :
Padangpanjang, 18 Agustus 1980
Profesi :
Penulis
Status :
Menikah
Penghargaan
1.
Nominator Buku Fiksi Anak Terbaik Islamic Book Award 2014 untuk
‘Attar dan Peta Beliyaka”
2.
Pemenang ketiga Lomba Menulis Novel Remaja Bentang, 2013, dengan naskah
berjudul “It’s Not Bad to be Sixteen”
3.
Pemenang Berbakat Lomba Menulis Novel Gramedia Pustaka Utama, 2013
dengan naskah berjudul “Love, Interrupted”
4.
Pemenang Harapan Lomba Menulis Cerpen Rohto-Mentholatum, 2011 dengan
cerpen berjudul “Klein Scheveningen”.
5.
Pemenang ketiga Lomba Menulis Cerpen Majalah Annida, 2005, dengan
cerpen berjudul “Tu: Dilarang Bersiul di Hutan”
6.
Finalis Lomba Menulis Novel Remaja DarMizan, 2005, dengan naskah
berjudul “It’s My Solitaire”.
7.
Finalis Lomba Menulis Novel Anak DarMizan, 2005, dengan naskah berjudul
“Hari Ketika Sisi Kehilangan Kucingnya”.
8.
Finalis Lomba Menulis Cerpen FLP Indonesia, 2004, dengan cerpen
berjudul “Peziarah Pulang Terlalu Pagi”.
Karya
Kumpulan Cerpen: Kutukan Pitopang, Penerbit
Beranda Hikmah. 2004
Novel : 1. Ken, Penerbit Lingkarpena. 2004
2. Farewell Party, Penerbit As Syamil. 2005
3. Denting Dua Hati, Penerbit Beranda Hikmah.
2005
4. It’s My Solitaire, Penerbit DarMizan. 2005
5. Kupu-kupu Fort de Kock, Penerbit Koekoesan.
2013
6. Love, Interrupted, Penerbti Gramedia
Pustaka Utama. 2014.
Antologi Bersama: 1. I Love U, Somad.
Lingkarpena. 2005
2. Gara-gara Jilbabku. Lingkarpena. 2005
3. Kutukan Jomblo. Lingkarpena. 2005
4. Menggapai Mimpi, Cakrawala Publishing. 2006
5. Akar Anak Tebu, Pusakata Publishing. 2013
Serial Anak : 1. Attar dan Peta Beliyaka.
Alkautsar Kids. 2013
2. Attar dan Alamat yang Hilang. ALkautsar
Kids. 2013
3. Attar dan Panci Ajaib. Alkautsar Kids. 2013
Karya tulis di majalah dan koran: belasan
cerpen dan artikel dimuat di harian Media Indonesia, Koran Seputar Indonesia,
Jurnal Nasional, Majalah Annida, Padang Ekspres, Haluan dan Singgalang periode
1999- sekarang
Organisasi
2003-2004 : Humas Forum Lingkar Pena Sumatra
Barat
2005 :
Koordinator Divisi Acara Padang Book Fair
2007 :
Koordinator Divisi Acara Padang Book Fair
2009-2012 : Ketua Komunitas Jurnalistik IAIN
Imam Bonjol
Prestasi di Organisasi
1. Berhasil menjalin kerjasama antara Komunitas
Jurnalistik dengan Harian Haluan untuk menggarap rubrik kampus periode
Januari-Desember 2011
2. Komunitas jurnalistik menerbitkan buku
berjudul “7,9 SR” berisi reportase pribadi mengenai gempa yang melanda Sumatra
Barat pada 30 September 2009. Terbit tahun 2010
Pekerjaan
2000-2001 : Reporter di Mingguan Padang Pos
2001-2003 : Sekretaris PT. Reanindo Perkasa
2003-2004 : Guru Playgroup Yayasan Citra
Almadina, Padang
2004 :
Redaktur Majalah Aulia
2005, 2007-2009 : Redaktur suplemen remaja
Pmails, Harian Padang Ekspres
2007-2009 : Kolumnis Pmails, Harian Padang
Ekspres
2009 :
Humas PT. Tidar Kerinci Agung
Pendidikan
1998-1999 :
Andalas Institute of Management, Secretary Department
2009-2014 :
Program Studi Jurnalistik, Jurusan Ilmu Komunikasi Islam, Institut
Agama Islam Negeri, Padang. IPK 3,79
Selasa, 28 Oktober 2014
Majukan Budaya Melayu, Sastrawan Lima Negara Berkumpul di Padang
REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Padang Provinsi Sumatera Barat akan menggelar pertemuan sastrawan nusantara melayu dengan tema Karya Sastra dan Relevansinya dengan Kehidupan Bangsa Melayu Serumpun Masa Kini.
Kepala Seksi (Kasi) Pelaksanaan Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Padang, Putri Golon Endo Mahata, di Padang, Rabu, mengatakan pada pertemuan itu, akan mengundang sastrawan dari lima negara, yakni Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand serta dari Indonesia.
Ia mengatakan kegiatan tersebut bertujuan untuk memajukan peradaban Nusantara Melayu dalam kesastraan dan mengatasi berbagai persoalan ke depan.
Pertemuan tersebut digelar pada 30 Oktober hingga 1 November 2014 di HOTEL
Hayam Wuruk Padang.
"Agenda ini diharapkan akan menjadi ajang memperkenalkan sastra, budaya, dan wisata Kota Padang ke dunia international, selain itu juga menjadi ajang silaturahmi sesama sastrawan dan khususnya para penulis muda yang diharapkan menjadi penerus tongkat estafet bangsa," ujarnya.
Ia melanjutkan, agenda ini juga bisa menjadi tempat mewariskan nilai-nilai budaya Melayu yang menjadi akar kebudayaan Indonesia dan negeri-negeri serumpun Melayu lainnya.
Selain itu, juga ajang untuk mencari kesamaan asal-usul, bahasa dan budaya dari peserta yang terdiri dari rumpun Melayu yang sama, katanya pula.
Pertemuan sastrawan tersebut akan diisi dengan diskusi sastra bertopik, antara lain Pendidikan Sastra Anak Bangsa, Gerakan Publikasi Karya Sastra, Karya Sastra Pentas dan Film.
Topik diskusi lainnya, Formulasi Kelembagaan dan Mekanisme Hubungan Budayawan Sastrawan Melayu, Sastra Islam di Indonesia Kajian Aspek Pendidikan Bangsa, Gerakan Menulis dan Membaca Sastra Gong dari Pemerintah.
Kemudian, Visi dan Persepsi Melayu dan Islam dalam Penulisan Sastra, Sastrawan Melayu dan Penghargaan Sastra, Karya Sastra dan Masyarakat Sastra, dan Naskah Klasik Sastra Melayu dan Ekonomi Kreatif. (http://nasional.republika.co.id/)
Kepala Seksi (Kasi) Pelaksanaan Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Padang, Putri Golon Endo Mahata, di Padang, Rabu, mengatakan pada pertemuan itu, akan mengundang sastrawan dari lima negara, yakni Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand serta dari Indonesia.
Ia mengatakan kegiatan tersebut bertujuan untuk memajukan peradaban Nusantara Melayu dalam kesastraan dan mengatasi berbagai persoalan ke depan.
Pertemuan tersebut digelar pada 30 Oktober hingga 1 November 2014 di HOTEL
"Agenda ini diharapkan akan menjadi ajang memperkenalkan sastra, budaya, dan wisata Kota Padang ke dunia international, selain itu juga menjadi ajang silaturahmi sesama sastrawan dan khususnya para penulis muda yang diharapkan menjadi penerus tongkat estafet bangsa," ujarnya.
Ia melanjutkan, agenda ini juga bisa menjadi tempat mewariskan nilai-nilai budaya Melayu yang menjadi akar kebudayaan Indonesia dan negeri-negeri serumpun Melayu lainnya.
Selain itu, juga ajang untuk mencari kesamaan asal-usul, bahasa dan budaya dari peserta yang terdiri dari rumpun Melayu yang sama, katanya pula.
Pertemuan sastrawan tersebut akan diisi dengan diskusi sastra bertopik, antara lain Pendidikan Sastra Anak Bangsa, Gerakan Publikasi Karya Sastra, Karya Sastra Pentas dan Film.
Topik diskusi lainnya, Formulasi Kelembagaan dan Mekanisme Hubungan Budayawan Sastrawan Melayu, Sastra Islam di Indonesia Kajian Aspek Pendidikan Bangsa, Gerakan Menulis dan Membaca Sastra Gong dari Pemerintah.
Kemudian, Visi dan Persepsi Melayu dan Islam dalam Penulisan Sastra, Sastrawan Melayu dan Penghargaan Sastra, Karya Sastra dan Masyarakat Sastra, dan Naskah Klasik Sastra Melayu dan Ekonomi Kreatif. (http://nasional.republika.co.id/)
Moh Harun
BIODATA
MOHD. HARUN (Univ. Syiah Kuala, Banda Aceh)
Mohd. Harun lahir di Laweueng, Pidie, Aceh, 5
Maret 1966. Dalam dunia seni dan jurnalistik sering memakai nama C. Harun al
Rasyid dan Mohd. Harun al Rasyid. Lebih dikenal dengan Harun al Rasyid.
Menamatkan pendidikan (1) SDN Laweueng, 1979; (2) MTs Padang Tiji, 1982; (3)
SMAN Sigli, 1985; (4) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Unsyiah
1992; (5) Magister Pendidikan Bahasa IKIP Malang, Maret 1998; (6) Doktor
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Spesialisasi Sastra Etnik di
Universitas Negeri Malang.
Mulai April 1990 ia bekerja sebagai wartawan Harian Serambi Indonesia
Banda Aceh dan berhenti 1994. Maret 1993 kembali ke kampus sebagai dosen di
FKIP Unsyiah, terutama mengasuh mata kuliah Puisi, Penulisan Kreatif, Sastra
Daerah Aceh, Jurnalistik, Adat dan Budaya Aceh, Komunikasi Antarbudaya. Sejak
September 2006—Desember 2007 ia menjabat Sekretaris Program Studi Magister
Pendidikan Bahasa, PPs, Unsyiah; Februari 2008—2012 sebagai
ketua Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia PPs Unsyiah,
dan sejak April 2008—sekarang sebagai ketua Pusat Studi Bahasa Daerah Aceh
(Pusbada) Unsyiah.
Selain menulis artikel ilmiah, Harun menulis puisi,
kritik sastra, feature, resensi buku,
dan cerpen. Puisinya dimuat dalam beberapa media dan dibukukan antara
lain dalam antologi Kemah Seniman Aceh 3 (1990), Banda Aceh
(1991), Nafas Tanah Rencong (1992), Lambaian (1993), Seulawah
(1995), Keranda-Keranda (1999), Dalam Beku Waktu (2003), Putroe
Phang (2003), Sankalakiri (2003), Piala Maja V (2004), Aceh,
8,9 Skala Richter, Lalu Tsunami (2005), Ziarah Ombak (2005), Lagu
Kelu (2005), Syair Tsunami (2006), Krueng Aceh Kumpulan Cerpen dan Puisi (2009). Kumpulan puisinya Suara
Pribumi (BP Swadaya Mandiri, Jambi, 1996), Nyanyian
Manusia (Maret 2006), dan Membaca Suara-Suara (2012). Cerpennya antara lain dimuat dalam antologi Remuk (2000) dan Kumpulan Cerpen Komunitas Sastra Indonesia
(2008).
Tahun 2003 menggagas dan mendirikan Pusat Kebudayaan Aceh (Pusaka) bersama
Dr. Abdul Djunaidi, M.S., dan Nurdin F. Joes. Bergabung dengan Dewan Kesenian
Banda Aceh (DKB) sebagai wakil sekretaris sampai 1999. Tahun 2000 sebagai Ketua
I Dewan Kesenian Aceh (DKA). Tahun 2004 mendirikan Lapena (Insitute
for Culture and Society) bersama berapa sastrawan Aceh.
Agustus 2007 menerima Anugerah Sastra Tahun 2007 dan Satya Lencana Sarakata
dari Pemerintah Aceh. Menjadi Ketua
Dewan Penyunting Jurnal Pelangi Sastra.
Desember 1999 menjadi pemakalah pada Dialog Utara VIII di Thailand Selatan;
15 September 2005 menjadi pemakalah di Institut Alam dan Tamadun Melayu
University Kebangsaan Malaysia pada peluncuran antologi puisi Ziarah Ombak;
19 September 2005 mengunjungi Kerajaan Negeri Perak Malaysia sebagai penceramah
sastra (puisi) di Perpustakaan Ipoh.
Dasril Ahmad
DASRIL AHMAD, lahir di Padang tgl. 25 Desember.
Menamatkan pendidikan di Fakultas Sastra Universitas Bung Hatta, Padang.
Menulis sejak tahun 1976 di berbagai media cetak terbitan Padang dan Jakarta.
Tulisan-tulisannya berupa esei, kritik, cerpen, cerita anak-anak, wawancara,
dan artikel kebudayaan antara lain dimuat di Harian Haluan, Singgalang, Semangat,
dan Padang Ekspres (terbitan Padang), dan Pelita, Berita
Buana, Terbit, Swadesi, Merdeka, Suara Karya, Tempo, Mingguan
Mutiara dan majalah sastra Horison (Jakarta).
Aktif mengikuti berbagai diskusi dan seminar sastra-budaya
yang diadakan di Indonesia, antara lain:
“Temu Sastrawan dan Kritikus 1984” di TIM Jakarta; “Forum Puisi
Indonesia 1987” di TIM Jakarta; “Pertemuan Bahasa dan Sastra Wilayah
Barat” di Pekanbaru (1986), dan berbagai seminar bahasa, sastra dan budaya
di Sumatera Barat.
Menyajikan makalah
pada forum “Temu Kritikus Muda
Sumbar-Riau 1986”, “Temu
Kritikus Sastra se-Sumatera 1989”, dan seminar “Perkembangan Kritik
Sastra Indonesia di Sumbar” (1988), semuanya di Padang. Dua kumpulan cerpennya yaitu; Debu
(1986) dan Ngilu (1988) diterbitkan oleh Himpunan Mahasiswa Sastra
Sumatera Barat (HMSSB) di Padang.
Menjabat Sekretaris Umum HMSSB (1985-1990), redaktur tamu
pada rubrik sajak di ruangan budaya harian Haluan (1991-1992). Selain
menulis, ia juga pernah jadi dosen luar
biasa di Fakultas Adab IAIN Imam Bonjol Padang (1998) dan Fakultas Sastra
Universitas Bung Hatta (1998-1999). Juga kerap menjadi juri untuk lomba baca dan menulis puisi yang diadakan oleh
berbagai lembaga di Sumatera Barat. Kini, kakek satu orang cucu ini, aktif
menulis esei dan kritik sastra di berbagai media cetak dan online yang
ada.
Sabtu, 25 Oktober 2014
Benny Arnas
Benny arnas, siapa yang tidak mengenal sosoknya ini? Mungkin beberapa dari kalian tidak mengenalnya, karena mungkin ketidaktahuaan informasi tentang penulis yang satu ini atau karena kebanyakan kalian hanya penikmat karya-karya pop yang menjamur di pasaran saat ini . Padahal endingnya pun bisa di tebak sangking dangkalnya narasi dalam karya itu. Ya, dia adalah pengarang muda dari paling banyak mendapatkan penghargaan.
Karya-karyanya banyak mengobrak-abrik Koran besar di Indonesia, sepanjang tahun 2009-2010. Kesemuaanya merupakan kumpulan cerpen dari buku “Bulan Celurit Api” sebut saja; Dua Beranak Temurun dikoran Kompas, Tukang Cerita di Republika, Hari Matinya Ketip Isa di Tempo, Surat Sajak Yang Mengantarmu Pulang di Jurnal nasional dan Bulan Celurit Api, sendiri di Suara Merdeka.
Benny Arnas juga di sebut-sebut pengusung sastra kampung halaman. Yaitu sastra yang lahir berdasarkan pengalaman hidup sehari-hari pengarangnya. Karya yang membawa unsur lokal dari daerah tempat dimana pengarang lahir dan tumbuh besar, yang dieksploitasi secara cerdas dan oportunitis oleh penulis. Karyanya begitu syarat dengan kritik sosial budaya, di Lubuk Linggau.
Salah satu karya yang saya bahas disini adalah kumpulan cerpenya yang berjudul “Bulan Celurit Api” yang banyak mendapat penghargaan. Penghargaan dari Balai Bahasa maupun Pena Awards.
Membaca cerpen ini, mungkin butuh waktu yang cukup lama untuk mengerti apa jalur ceritanya dan mengulang-ulang beberapa kali membaca teks keseluruhan. Jujur, hanya sedikit yang dapat aku pahami dari bahasanya, karna kebanyakan menggunakan bahasa lokal dan melayu. Bisa didapati ketika para tokoh berdialog maupun bahasa pengarang sebagai pengamat.
Membaca karya Benny Arnas ini, seperti membaca buku-buku terbitan Balai Pustaka. Seperti karya-karya Abdoel moes(salah asuhan), Idrus (Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma) atau seperti halnya membaca hikayat-hikayat jaman dulu.
Jangan heran ketika membaca cerpen ini maupun karya-karya Benny Arnas lainya, tidak akan mendapati cerita bagaimana seorang remaja ketika jatuh cinta, atau bagaimana seorang cewek sedang naksir cowok ganteng yang padahal kakak seniornya atau kesedihan ditinggal sahabat dekat dan cerita remaja lainya. Karena kebanyakan ceritanya ber-genre fiksi dewasa.
Tidak ada salahnya kita menikmati karya yang satu ini, setelah kita merasa bosan dengan karya-karya yang itu-itu terus. Kebanyakan jakarta sentris lengkap dengan logat “lue-gue” dengan narasi-narasi dangkal. Tidak semua tapi sebagian besar. Memang, kenyataan ini tidak bisa disalahkan sebab karya-karya semacam itu lahir karena tuntunan pasar. Karya ini merupakan karya unik, jarang diera ini ada yang nulis cerita dengan menggunakan bahasa lokal dan logat melayu yang di angkat dari lokalitas.
Cerpen ini memuat kritikan yang sangat pedas terhadap sosial budaya yang mulai tergeser nilai-nilainya dengan budaya asing. Contoh pada kutipan berikut:
Dan… ketika malam meninggi, entah apakah karena usia yang melamurkan telinga dan mata, atau memang ia harus sadar bahwa dunia bukan lagi sangkarnya, apa-apa yang dipidatokan Haji Makmun dengan setengah berteriak itu tiada dimengertinya. Pun mereka yang makan minum sambil berdiri itu, dan… Ya Rahman, joged-jogedan di atas panggung tarup orkes….
“Ayo… lanjut! ‘Kucing garong’!!!”
Mak Muna sebagai tokoh utama, disini Mak Muna sedang di undang oleh Haji Makmun sebagai pencalonan kepala desa. Membayangkan akan ada acara anak-anak memainkan sandiwara Dul Muluk atau pasangan muda-mudi menggayung sambut pantun adat. Taetapi sayang, yang terjadi malah orkes dangdut yang memainkan lagu “kucing garong”. Haji Makmun sendiri yang menyuruh. Haji?? Ya Haji, calon kepala desa pula.
Tetapi lebih geli lagi dengan kritikan dalam kutipan berikut ini:
Mak Muna salah lagi. Benar-benar tak paham ia. Walaupun hampir tak pernah ikut berkumpul dengan anak-menantu-cucunya berhahak-hihik atau bersedu-sedan atau… ya berjoged-joged di depan televisi, tapi… apanya yang bagus-bagus, bila cucunya yang bernama aneh-aneh itu —Alberto, Isabela, dan… uuuh, Mak Muna sendiri susah mengingatnya— susah sekali diajak sembahyang. Ah, induk-induknya pun tak sembahyang!
Tak perlu saya jelaskan lebih rinci lagi, bagaimana penulis mengkritik sosial budaya orang Lubuk Linggau. Semogga kritikan sederhana ini dapat memberikan sedikit informasi kepada pembaca khususnya penikmat sastra. Sastra Remaja maupun dewasa. (pen. Joni Jaka)
Jumat, 24 Oktober 2014
Hermawan Aksan

Hermawan Aksan (lahir di Desa Jipang, Kecamatan Bantarkawung,
Brebes, Jawa Tengah pada 13 Desember) adalah penulis yang banyak menghasilkan
karya baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Sunda. Cerita-cerita pendek dan
esainya yang berbahasa Indonesia
dimuat di sejumlah media massa .
Pernah bekerja sebagai editor
bahasa pada Tabloid Detik, Bola, Raket, dan Detak. Kini
menjadi redaktur di Harian Tribun Jabar.
Pernah diundang menjadi peserta Ubud Writers and Readers Festival 2010 dan
Borobudur Writer and Culture Festival 2012.
Buku-buku yang sudah diterbitkan
kumpulan cerpen Sang Jelata (Grasindo, 2004) Ketika Bulan Pucat, Dia Pergi Seperti Angin (Saroba, 2009), Lelaki yang Terus Mencari Sumbi (Indie
Book Corner, 2011), dan Madirda
(SkylArt, 2012); novel Dyah Pitaloka, Senja di Langit Majapahit (C
Publishing, 2005), Niskala, Gajah Mada Musuhku (Bentang Pustaka, 2008), Cinta Empat Bab (Kakilangit, 2009), Cincin Cinta Miss Titin (Kakilangit,
2009), dan serial Jaka Wulung
(Bentang Pustaka, 2013); serta 20-an buku nonfiksi.
***
Hermawan Aksan, mungkin bukan nama yang berkibar-kibar di belantara penulisan fiksi kendati telah lahir sedikitnya sepuluh buah buku dari tangannya. Lelaki pendiam yang telah senang menulis sejak di bangku SMP ini beberapa kali bahkan pernah memenangi sayembara menulis carpon alias carita pondok, bahasa Sunda untuk cerpen (cerita pendek). Salah satunya menjadi jawara dalam ajang lomba carpon mini yang diselenggarakan oleh Yayasan Jendela Seni (2002) dengan karyanya yang berjudul Ti Pulpen Tepi ka Jaratan Cinta. Artinya kira-kira dari pulpen sampai ke jeratan cinta.“Waktu SMP itu aku baru nulis-nulis untuk buku harian (diary) dan majalah dinding saja”, papar Hermawan Aksan mengenang awal mula karier kepenulisannya. “Dan mulai seriusmenekuninya kira-kira tahun 1989 atau 1990”, jelasnya lebih lanjut.Meskipun ia mengaku agak terlambat memulai, namun sejak itu cintanya telah tertambat tanpa ampun pada bidang ini. Seperti kebanyakan kisah para penulis, Her–begitulah ia disapa para karibnya–mengawali karier menulisnya dari kesenangan membaca, terutama cerita pendek. Maka tak heran jika karya pertama yang dihasilkannya adalah sebuah cerpen remaja yang dimuat di majalah Anita Cemerlang. Bagi generasi angkatan 80-an, nama majalah kumpulan cerpen ini telah menjadi ikon tersendiri yang turut menandai keberadaan angkatan “tua” tersebut.Selanjutnya, karya-karya pria berusia 43 tahun ini terus mengalir, menghiasi halaman-halaman sastra pelbagai koran dan majalah, dalam bahasa Indonesia maupun Sunda. Tak hanya fiksi tapi juga esai, ulasan buku, kritik sastra, dan kolom.“Bagiku, sama asyiknya menulis fiksi ataupun nonfiksi. Tapi, aku selalu gagal dalam menciptakan puisi. Entah kenapa, sepertinya tak pernah bisa menemukan kata-kata puitis untuk dijadikan puisi”, ujar ayah dua orang putri ini.Her yang sempat mencicipi bangku kuliah di jurusan Astronomi Institut Teknologi Bandung(ITB) ini rupanya tak puas jika cuma menulis cerpen. Maka, ia pun mulai menulis novel (buku). Buku debutannya adalah sebuah novel anak-anak berjudul Bertamasya Ke Angkasa Luar (1993).Adapun tentang kegemarannya akan sastra Sunda, bukan saja disebabkan sejak kuliah sampai sekarang ia tinggal di Bandung yang banyak memakai bahasa Sunda dalam pergaulan sehari-hari, namun pula karena ia memang (merasa sebagai) orang Sunda. Ia lahir di Desa Jipang, Kabupaten Brebes, yang terletak di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Masyarakat di sana berbahasa Sunda, meski dalam dialek yang sedikit lebih “ngoko” (kasar) dari Sunda Priangan. Masa kecilnya banyak dilalui dengan menonton wayang golek, sandiwara Sunda, serta kesenian Sunda lainnya.Hal ini pula agaknya yang lantas membuatnya tertarik mengangkat figur perempuan cantik dari Tanah Sunda, Dyah Pitaloka, ke dalam novel berjudul sama. Novel yang berkisah juga ihwal Perang Bubat–perang ‘legendaris’ antara orang Sunda dan orang Jawa–ini terbit dua tahun lalu. Kabarnya Her tengah merencanakan membuat sekuelnya dengan tokoh sentral Raden Wastukencana, adik lelaki Dyah Pitaloka, yang kelak menjadi Raja Sunda mengembalikan kejayaan sang ayah yang gugur di padang Bubat.Dalam setiap proses kreatifnya, Her kerap dipengaruhi oleh banyak hal. Mulai dari peristiwa sehari-hari, teman-teman di kantornya, keluarganya, sampai dengan buku-buku yang dibacanya. Termasuk juga gaya bertutur para pengarangnya, walaupun ia baru menyadarinya belakangan.“Aku tidak tahu mengapa demikian. Semuanya seperti terjadi di luar kesadaran”, Her memberi alasan, “Ketika aku membaca (karya-karya) Arswendo, aku terpengaruh Arswendo. Tatkala selesai membaca Manusia Kamar, aku terpengaruh Seno (Gumira Ajidarma). Kemudian saat menikmati Orang-Orang Bloomington, akupun terpengaruh Budi Darma”, sambungnya sembari tersenyum simpul. Soal pengaruh-memengaruhi mungkin hal yang lazim di kalangan para penulis. Bukan mustahil kiranya jika Hermawan pun memiliki pengaruh juga untuk penulis-penulis lain. Itu biasa dan sah-sah saja, bukan, asal tidak lalu menjadi plagiat.Di samping sibuk sebagai redakur di harian Tribun Jabar, Her masih sempat pula sesekali menyunting dan menerjemahkan novel-novel asing. Menurut lelaki berbintang Sagitarius ini, banyaknya novel asing menyerbu pasar buku kita seharusnya bisa dilihat sebagai sesuatu yang positif sepanjang disertai pemilihan karya yang bagus dan penerjemahan yang baik. Her meramalkan untuk tahun ini tampaknya novel-novel “timur” masih akan mendominasi.Sekian lama malang-melintang di jagat sastra, Her barangkali sudah lupa buku pertama yang dibacanya. Tetapi ia masih dapat mengingat dengan baik buku-buku yang mengesankannya. Salah sebuahnya adalah Nagasasra dan Sabuk Inten karya S.H.Mintardja. Ia juga diam-diam menyimpan keinginan untuk kelak bisa bersua dengan Djenar Maesa Ayu dan Tanti R.Skober. Nama yang disebut belakangan ini adalah penulis yang cerpen dan esai-esainya sempat bikin gempar pada tahun 1990-an. Her penasaran di mana gerangan sang pengarang idola berada kini? Kalau dengan Djenar, apa ya kira-kira yang membuatnya ingin berjumpa?Suami dari Eka Suheryani ini selain membaca ternyata punya hobi lain lagi: sepak bola. Bukan hanya sebagai penonton tetapi juga pemain. Di tim kantornya, ia dipercaya sebagai kiper andalan. Keinginannya dalam hidup ini kiranya tak muluk-muluk: “Membahagiakan istri dan anak-anakkku.”Lantas bagaimana dengan profesinya selaku penulis? Sampai kapan ia akan menekuni bidang ini? “Sampai aku tak bisa lagi berpikir”, katanya mantap. Baiklah, kita doakan saja semoga akan terus lahir karya-karya yang baik darinya.
Kamis, 23 Oktober 2014
Rusli Marzuki Saria
H. Rusli Marzuki Saria yang akrab dipanggil “Papa” lahir di Kamang, Bukittinggi 26 Februari 1936.Dia dibesarkan di tengah keluarga dan lingkungan pedesaan Minangkabau yang sarat dengan tradisi ajaran Islam. Nama belakangnya, Marzuki Saria berasal dari nama ayahnya, Marzuki. Papa, anak laki-laki satu-satunya dari 17 bersaudara. Rusli menamatkanSD di Lubuak Basilang, Payakumbuh setelah meninggalnya ibunda tercinta di tahun 1946. Pada tahun 1953 menamatkan SMP (sore) dan pada tahun yang sama ayahanda beliau meninggal. Pap menamatkan SMA bag. A pada 1957.
Pernikahan Papa dengan Haniza Musa, 4 Mei 1963, dikaruniai empat orang anak. Dua laki dan dua perempuan. Nama-nama anak Papa Fitri Erlin Denai (Padang, 23 Januari 1964), Vitalitas Fitra Sejati (Padang, 24 Januari 1966), Satyagraha (Kamang, 20 Juli 1968, dan Diogenes (Padang, 14 Mei 1970).
Sedangkan dunia kepenyairan papa sudah dirintis dari 1957. Karya-karya Papa sudah beredar semenjak 1957. Papa telah menulis di majalah Indonesia, Konfrontasi, Panji Masyarakat, Budaya Jaya, Mimbar, Basis, Horison, Majalah Zaman Baru, Aman Makmur, Respublika, Sinar Harapan, Suara Karya.
Papa telah menerbitkan buku sajak Pada Hari Ini, Pada Jantung Hati (Penerbit Genta Padang). Monumen Safari: Antologi Berempat (Penerbit Genta Padang, 1996), Ada Ratap, Ada Sunyi (Penerbit Puisi Indonesia, Jakarta, 1976), Tema-tema Kecil (Penerbit Puisi Indonesia, Jakarta, 1976), Sendiri-sendiri, Sebaris-sebaris, dan Sajak-sajak Bulan Pebruari (Penerbit Puisi Indonesia, Jakarta, 1976), Sembilu Darah (Lima kumpulan sajak, Dewan Kesenian Sumbar dan pustaka Sastra, Jakarta, 1996), Parewa: Sajak Dalam Lima Kumpulan (1960-1992) (Penerbit, Grasindo, 1998). Mangkutak di Negeri Prosa Liris (Penerbit, Grasindo, 2010).
Pada tahun 1953 dia diterima menjadi pegawai negeri sipil di kepolisian Sumatera Tengah di Bukittinggi. Rusli diangkat menjadi calon Clerk (juru tulis) golongan III A di kantor Koordinator Mobiele Brigade (Mobbrig) korsp 106 Sumatera Tengah. Pada tahun 1958 ketika terjadi pemberontakan PRRI (permesta Perang Revolusi Republik Indonesia-Perlawanan Rakyat Semesta), Rusli Marzuki Saria dipecat dari kepolisian karena terlibat daerah Sumatera Tengah. Sejak tahun 1962 bekerja sebagai tenaga tata usaha di koperasi Batik Fajar Putera sampai tahun 1969.
Papa bergabung dengan Haluan semenjak 1969, barulah bulan Juli 1999 pensiun setelah 30 tahun berkarir sebagai wartawan. Mantan Redaktur Haluan yang sangat apresiatif terhadap para penyair-penyair muda ini telah mengunjungi manca Negara dengan profesi sebagai penyair dan wartawan. Dia telah mengunjungi Malaysia, Bangkok, Singapura,Australia (Townsvils, Cairs), Jerman Barat (Frankfurt, Koln, Munich, Berlin Barat, Hamburg). Menerima hadiah sastra 1997 dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, dengan kumpulan sajak Sembilu Darah. Mantan Agen Polisi Kepala (Brimob), Pernah menjabat sebagai anggota DPRD tingkat II Padang.*
Langganan:
Postingan (Atom)


















.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)





