Iklan

.
Tampilkan postingan dengan label Peserta TSN 2014. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peserta TSN 2014. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Oktober 2014

Muhammmad Ibrahim Ilyas




Susanti Rahim

Nama lengkap Susanti Rahim, lebih akrab di panggil Cece atau Susan. Lahir di sebuah pulau terapung yang dinamai Selatpanjang, salah satu pulau kecil di Riau. Berulang tahun pada 11 Oktober. Memiliki hobi Membaca, Mendengar, dan bermain. Pernah mengikuti pelatihan penulisan cerpen yang diadakan Balai Bahasa Sumatra Barat, Darman Moenir dan Gus tf Sakai sebagai mentor.

Arbi Syafri Tanjung

Arbi Syafri Tanjung, lahir di Medan 6 Februari 1981. Saat ini sedang menyelesaikan studi S2 Ilmu Sejarah di Universitas Andalas-Padang. Pembimbing Kelas Menulis di Pesantren Sumatera Thawalib Parabek Bukittinggi dan SMAN 1 Bonjol. Alamat: SMPN 3 Bonjol-Pasaman,email :tanjungarbi068@gmail.com dan no.hp 0852-7248-0478

Rabu, 29 Oktober 2014

Yetti A. KA

Karya Yetti A. KA


Kurnia Hadinata

Kurnia Hadinata dilahirkan 17 Desember 1981 silam di kota budaya Batu Sangkar, Sumatera Barat.  Merupakan alumnus  PROGRAM Pascasarjana Universitas Negeri Padang (UNP)
Semasa kuliah sibuk menggiatkan diri dalam setiap pergerakan dan aksi mahasiswa, aktif dalam aktivitas sastra, teater, seni rupa dan film.  Secara pribadi pernah menerbitkan buku kumpulan puisi yang bertajukAubade Pesta Hujan (2003). Musim Hujan yang Menggugurkan Daun-daun Puisi (2007), Lelaki yang Kawin dengan Orang Bunian  (Kumpulan Cerpen, 2007)  dan sebuah novel Bianglala di Bukit Barisan(2008)  Menjadi wartawan lepas di beberapa media massa diantaranya Harian Haluan Padang (2004-2005) menjadi Koresponden LKBN ANTARA (2005-2006).
Menjadi nominator Lomba Menulis Cerpen Tingkat Nasional pada Festival Kreativitas Pemuda 2006 kerjasama Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda Kementrian Pemuda dan Olah Raga RI dengan Creative Writing Institute (CWI). Juara 3 Lomba menulis Essai  Pendidikan Antar Wartawan Se- Sumbar tahun 2009. Peringkat 3 Lomba Menulis Cerpen Tingkat Guru Se- Sumbar Tahun 2009.  Nominator 20 Cerpen Favorit Lomba Menulis Cerpen Remaja Rhoto Award 2009. Peringkat Runner-Up Lomba Menulis Cerpen (LMCP) tingkat Nasional antar guru SMA/SMK tahun 2009.  Tahun 2010 bukunya “Ayo Membuat Film Cerita Pendek”  berhasil meraih Juara 1 Sayembara Menulis Buku Pusat Perbukuan Nasional Kemendiknas.  Juara 1 Lomba Puisi tentang Kota Padang 2011, Juara 1 Lomba Puisi FBS FK UI dan cerpennya Binatu terhimpun dalam antologi Jilfest 2011 “Sejuta Warna di Langit Jakarta”. Saat ini kegiatan lain yang dilakukan yaitu menggiatkan diri mengelola rumah baca dan sanggar menulis bagi anak miskin dan pemuda putus sekolah, sekaligu sebagai staf pengajar di SMPN 2 Panti Kab. Pasaman-Sumbar.  Sekarang penulis menetap di Jl. Pasar Inpres  Air Terbit Panti No 31, Kecamatan Panti Kabupaten Pasaman, Sumbar kode pos 26352  Email : Hadinata_kurnia@yahoo. Com, Kontak Person (HP) 081363928177

Hakimah Rahmah Sari




Hakimah Rahmah Sari, kelahiran 11 Januari 1994 di Saniangbaka, Kab. Solok. Alumni MAN/MAKN Koto Baru Padang Panjang. Sekarang kuliah di jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Menulis puisi dan cerpen. Tulisannya pernah dimuat di Koran Tempo, Padang Ekspres, Haluan, Singgalang dan beberapa koran elektronik. Tulisannya juga tergabung dalam antologi puisi Epitaf Arau, Narasi Tembuni, Diverse, Kuda Pacuan, Menyirat Cinta Haqiqi, dan Potongan Tangan di Kursi Tuhan (cerpen). Berkegiatan di LPK, Sajaksore, dan Ranah Teater.
Hakimah Rahmah Sari

Muhammad Subhan

MUHAMMAD SUBHAN, lahir di Medan, 3 Desember 1980. Berdarah Aceh-Minang. Menulis novel, cerpen, esai dan puisi. Sejak tahun 2000 menggeluti dunia jurnalistik dan bekerja sebagai wartawan di beberapa suratkabar di Padang, di antaranya; SKM Gelora, Gelar Reformasi, Media Watch (2000-2003), Harian Mimbar Minang (2003-2004), Harian Haluan (2004-2010), editor Harian Online Kabar Indonesia yang berpusat di Belanda (2007-2010), Majalah Islam SABILI (2008-2012), Jurnal Kuflet.com (2010-sekarang), dan menulis lepas di beberapa media di Sumatera Barat dan Jakarta.

Pendidikan formalnya ia selesaikan di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Imam Bonjol Padangpanjang, Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI). SMA, SMP dan SD ia tamatkan di Lhokseumawe, Aceh Utara. Selebih itu ia belajar secara otodidak dan aktif dalam kegiatan-kegiatan diskusi kepenulisan.

Novelnya yang telah terbit berjudul Rinai Kabut Singgalang (2011). Saat ini sedang mempersiapkan penerbitan novel keduanya. Buku puisi tunggalnya berjudul Sajak-Sajak Dibuang Sayang (2014). Sejumlah karya lain terkumpul dalam antologi bersama, di antaranya; Merengkuh Asa (Antologi Puisi Penyair Aceh, 2014), Fesbuk (Antologi Cerpen, 2012), Bukittinggi, Ambo di Siko (Antologi Puisi, 2012), Menyirat Cinta Hakiki (Antologi Puisi Malaysia-Indonesia, 2012), Kado untuk Jepang (Antologi FTS, 2011), Lautan Sajadah (Antologi Puisi Mahasiswa UMSB, 2009), Ponari for President (Antologi Puisi Penyair Indonesia, 2009), Musibah Gempa Padang (Antologi Puisi Penyair Malaysia-Indonesia, 2009), G30S: Gempa Padang (Antologi Puisi, 2009), Hujan Batu Buruh Kita (Nominator Liputan Buruh-AJI Indonesia, 2009), Melawan Kemiskinan dari Nagari (Buku Bappeda, 2009), dll.

Selain itu, cerpen, puisi, esainya juga diterbitkan di sejumlah media, di antaranya Harian Serambi Indonesia (Aceh), Waspada (Medan), Haluan, Singgalang, Padang Ekspres, Koran Padang, Metro Andalas (Padang), Rakyat Sumbar (Bukittinggi), Sabili (Jakarta), Kaltim Post (Banjarmasin), dll.

Ia sering diundang menjadi juri dalam lomba-lomba kepenulisan tingkat lokal dan nasional serta menjadi pembicara di berbagai pelatihan/seminar tentang kepenulisan/jurnalistik di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi. Pernah bekerja dan “studi sastra” di Rumah Puisi Taufiq Ismail Aie Angek, Kabupaten Tanah Datar sekaligus menjadi Instruktur Sanggar Sastra Siswa Rumah Puisi (lebih kurang 3,7 tahun).


Sekarang memimpin Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia, sebuah komunitas penulisan nasional yang berpusat di Pare, Kediri, Jawa Timur. Berdomisili di pinggir Kota Padangpanjang. Ia dapat dihubungi di nomor Hp. 0813 7444 2075 , email: rinaikabutsinggalang@yahoo.com, facebook: “Muhammad Subhan”. (*)

Maya Lestari Gf

Curriculum Vitae

Nama                           : Maya Lestari Gf.
TTL                             : Padangpanjang, 18 Agustus 1980
Profesi                         : Penulis
Status                          : Menikah

Penghargaan            

1.        Nominator Buku Fiksi Anak Terbaik Islamic Book Award 2014 untuk
    ‘Attar dan Peta Beliyaka”
2.        Pemenang ketiga Lomba Menulis Novel Remaja Bentang, 2013, dengan naskah berjudul “It’s Not Bad to be Sixteen”
3.        Pemenang Berbakat Lomba Menulis Novel Gramedia Pustaka Utama, 2013 dengan naskah berjudul “Love, Interrupted”
4.        Pemenang Harapan Lomba Menulis Cerpen Rohto-Mentholatum, 2011 dengan cerpen berjudul “Klein Scheveningen”.
5.        Pemenang ketiga Lomba Menulis Cerpen Majalah Annida, 2005, dengan cerpen berjudul “Tu: Dilarang Bersiul di Hutan”
6.        Finalis Lomba Menulis Novel Remaja DarMizan, 2005, dengan naskah berjudul “It’s My Solitaire”.
7.        Finalis Lomba Menulis Novel Anak DarMizan, 2005, dengan naskah berjudul “Hari Ketika Sisi Kehilangan Kucingnya”.
8.        Finalis Lomba Menulis Cerpen FLP Indonesia, 2004, dengan cerpen berjudul “Peziarah Pulang Terlalu Pagi”.


Karya

Kumpulan Cerpen: Kutukan Pitopang, Penerbit Beranda Hikmah. 2004

Novel         : 1. Ken, Penerbit Lingkarpena. 2004
 2. Farewell Party, Penerbit As Syamil. 2005
 3. Denting Dua Hati, Penerbit Beranda Hikmah. 2005
 4. It’s My Solitaire, Penerbit DarMizan. 2005
 5. Kupu-kupu Fort de Kock, Penerbit Koekoesan. 2013
 6. Love, Interrupted, Penerbti Gramedia Pustaka Utama. 2014.

Antologi Bersama: 1. I Love U, Somad. Lingkarpena. 2005
  2. Gara-gara Jilbabku. Lingkarpena. 2005
3. Kutukan Jomblo. Lingkarpena. 2005
4. Menggapai Mimpi, Cakrawala Publishing. 2006
5. Akar Anak Tebu, Pusakata Publishing. 2013

Serial Anak                  : 1. Attar dan Peta Beliyaka. Alkautsar Kids. 2013
                                                 2. Attar dan Alamat yang Hilang. ALkautsar Kids. 2013
                                                 3. Attar dan Panci Ajaib. Alkautsar Kids. 2013


Karya tulis di majalah dan koran: belasan cerpen dan artikel dimuat di harian Media Indonesia, Koran Seputar Indonesia, Jurnal Nasional, Majalah Annida, Padang Ekspres, Haluan dan Singgalang periode 1999- sekarang


Organisasi

2003-2004                   : Humas Forum Lingkar Pena Sumatra Barat
2005                            : Koordinator Divisi Acara Padang Book Fair
2007                            : Koordinator Divisi Acara Padang Book Fair
2009-2012                   : Ketua Komunitas Jurnalistik IAIN Imam Bonjol

Prestasi di Organisasi

1. Berhasil menjalin kerjasama antara Komunitas Jurnalistik dengan Harian Haluan untuk menggarap rubrik kampus periode Januari-Desember 2011
2. Komunitas jurnalistik menerbitkan buku berjudul “7,9 SR” berisi reportase pribadi mengenai gempa yang melanda Sumatra Barat pada 30 September 2009. Terbit tahun 2010


Pekerjaan

2000-2001                   : Reporter di Mingguan Padang Pos
2001-2003                   : Sekretaris PT. Reanindo Perkasa
2003-2004                   : Guru Playgroup Yayasan Citra Almadina, Padang
2004                            : Redaktur Majalah Aulia
2005, 2007-2009 : Redaktur suplemen remaja Pmails, Harian Padang Ekspres
2007-2009                   : Kolumnis Pmails, Harian Padang Ekspres
2009                            : Humas PT. Tidar Kerinci Agung

Pendidikan
                                   
1998-1999                   : Andalas Institute of Management, Secretary Department
2009-2014                   : Program Studi Jurnalistik, Jurusan Ilmu Komunikasi Islam, Institut
     Agama Islam Negeri, Padang. IPK 3,79


Selasa, 28 Oktober 2014

Majukan Budaya Melayu, Sastrawan Lima Negara Berkumpul di Padang

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Padang Provinsi Sumatera Barat akan menggelar pertemuan sastrawan nusantara melayu dengan tema Karya Sastra dan Relevansinya dengan Kehidupan Bangsa Melayu Serumpun Masa Kini.

Kepala Seksi (Kasi) Pelaksanaan Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Padang, Putri Golon Endo Mahata, di Padang, Rabu, mengatakan pada pertemuan itu, akan mengundang sastrawan dari lima negara, yakni Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand serta dari Indonesia.

Ia mengatakan kegiatan tersebut bertujuan untuk memajukan peradaban Nusantara Melayu dalam kesastraan dan mengatasi berbagai persoalan ke depan.

Pertemuan tersebut digelar pada 30 Oktober hingga 1 November 2014 di HOTEL Hayam Wuruk Padang.

"Agenda ini diharapkan akan menjadi ajang memperkenalkan sastra, budaya, dan wisata Kota Padang ke dunia international, selain itu juga menjadi ajang silaturahmi sesama sastrawan dan khususnya para penulis muda yang diharapkan menjadi penerus tongkat estafet bangsa," ujarnya.

Ia melanjutkan, agenda ini juga bisa menjadi tempat mewariskan nilai-nilai budaya Melayu yang menjadi akar kebudayaan Indonesia dan negeri-negeri serumpun Melayu lainnya.

Selain itu, juga ajang untuk mencari kesamaan asal-usul, bahasa dan budaya dari peserta yang terdiri dari rumpun Melayu yang sama, katanya pula.

Pertemuan sastrawan tersebut akan diisi dengan diskusi sastra bertopik, antara lain Pendidikan Sastra Anak Bangsa, Gerakan Publikasi Karya Sastra, Karya Sastra Pentas dan Film.

Topik diskusi lainnya, Formulasi Kelembagaan dan Mekanisme Hubungan Budayawan Sastrawan Melayu, Sastra Islam di Indonesia Kajian Aspek Pendidikan Bangsa, Gerakan Menulis dan Membaca Sastra Gong dari Pemerintah.

Kemudian, Visi dan Persepsi Melayu dan Islam dalam Penulisan Sastra, Sastrawan Melayu dan Penghargaan Sastra, Karya Sastra dan Masyarakat Sastra, dan Naskah Klasik Sastra Melayu dan Ekonomi Kreatif. (http://nasional.republika.co.id/)

Moh Harun


BIODATA MOHD. HARUN (Univ. Syiah Kuala, Banda Aceh)


Mohd. Harun lahir di Laweueng, Pidie, Aceh, 5 Maret 1966. Dalam dunia seni dan jurnalistik sering memakai nama C. Harun al Rasyid dan Mohd. Harun al Rasyid. Lebih dikenal dengan Harun al Rasyid. Menamatkan pendidikan (1) SDN Laweueng, 1979; (2) MTs Padang Tiji, 1982; (3) SMAN Sigli, 1985; (4) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Unsyiah 1992; (5) Magister Pendidikan Bahasa IKIP Malang, Maret 1998; (6) Doktor Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Spesialisasi Sastra Etnik di Universitas Negeri Malang.
Mulai April 1990 ia bekerja sebagai wartawan Harian Serambi Indonesia Banda Aceh dan berhenti 1994. Maret 1993 kembali ke kampus sebagai dosen di FKIP Unsyiah, terutama mengasuh mata kuliah Puisi, Penulisan Kreatif, Sastra Daerah Aceh, Jurnalistik, Adat dan Budaya Aceh, Komunikasi Antarbudaya. Sejak September 2006—Desember 2007 ia menjabat Sekretaris Program Studi Magister Pendidikan Bahasa, PPs, Unsyiah; Februari 2008—2012 sebagai ketua Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia PPs Unsyiah, dan sejak April 2008—sekarang sebagai ketua Pusat Studi Bahasa Daerah Aceh (Pusbada) Unsyiah. 
Selain menulis artikel ilmiah, Harun menulis puisi, kritik sastra, feature, resensi buku,  dan cerpen. Puisinya dimuat dalam beberapa media dan dibukukan antara lain dalam antologi Kemah Seniman Aceh 3 (1990), Banda Aceh (1991), Nafas Tanah Rencong (1992), Lambaian (1993), Seulawah (1995), Keranda-Keranda (1999), Dalam Beku Waktu (2003), Putroe Phang (2003), Sankalakiri (2003), Piala Maja V (2004), Aceh, 8,9 Skala Richter, Lalu Tsunami (2005), Ziarah Ombak (2005), Lagu Kelu (2005), Syair Tsunami (2006), Krueng Aceh Kumpulan Cerpen dan Puisi (2009). Kumpulan puisinya Suara Pribumi (BP Swadaya Mandiri, Jambi, 1996), Nyanyian Manusia (Maret 2006), dan Membaca Suara-Suara (2012). Cerpennya antara lain dimuat dalam antologi Remuk (2000) dan Kumpulan Cerpen Komunitas Sastra Indonesia (2008).
Tahun 2003 menggagas dan mendirikan Pusat Kebudayaan Aceh (Pusaka) bersama Dr. Abdul Djunaidi, M.S., dan Nurdin F. Joes. Bergabung dengan Dewan Kesenian Banda Aceh (DKB) sebagai wakil sekretaris sampai 1999. Tahun 2000 sebagai Ketua I Dewan Kesenian Aceh (DKA). Tahun 2004 mendirikan Lapena (Insitute for Culture and Society) bersama berapa sastrawan Aceh. Agustus 2007 menerima Anugerah Sastra Tahun 2007 dan Satya Lencana Sarakata dari Pemerintah Aceh.  Menjadi Ketua Dewan Penyunting Jurnal Pelangi Sastra.
Desember 1999 menjadi pemakalah pada Dialog Utara VIII di Thailand Selatan; 15 September 2005 menjadi pemakalah di Institut Alam dan Tamadun Melayu University Kebangsaan Malaysia pada peluncuran antologi puisi Ziarah Ombak; 19 September 2005 mengunjungi Kerajaan Negeri Perak Malaysia sebagai penceramah sastra (puisi) di Perpustakaan Ipoh.

Dasril Ahmad

DASRIL AHMAD, lahir di Padang tgl. 25 Desember. Menamatkan pendidikan di Fakultas Sastra Universitas Bung Hatta, Padang. Menulis sejak tahun 1976 di berbagai media cetak terbitan Padang dan Jakarta. Tulisan-tulisannya berupa esei, kritik, cerpen, cerita anak-anak, wawancara, dan artikel kebudayaan antara lain dimuat di Harian Haluan, Singgalang, Semangat, dan Padang Ekspres (terbitan Padang), dan Pelita, Berita Buana, Terbit, Swadesi, Merdeka, Suara Karya, Tempo, Mingguan Mutiara dan majalah sastra Horison (Jakarta). 

Aktif mengikuti berbagai diskusi dan seminar sastra-budaya yang diadakan di Indonesia,  antara lain: “Temu Sastrawan dan Kritikus 1984” di TIM Jakarta; “Forum Puisi Indonesia 1987” di TIM Jakarta; “Pertemuan Bahasa dan Sastra Wilayah Barat” di Pekanbaru (1986), dan berbagai seminar bahasa, sastra dan budaya di Sumatera Barat. 
Menyajikan makalah  pada forum  “Temu Kritikus Muda Sumbar-Riau 1986”,   “Temu Kritikus Sastra se-Sumatera 1989”, dan seminar “Perkembangan Kritik Sastra Indonesia di Sumbar” (1988), semuanya di Padang.  Dua kumpulan cerpennya yaitu; Debu (1986) dan Ngilu (1988) diterbitkan oleh Himpunan Mahasiswa Sastra Sumatera Barat (HMSSB) di Padang.

Menjabat Sekretaris Umum HMSSB (1985-1990), redaktur tamu pada rubrik sajak di ruangan budaya harian Haluan (1991-1992). Selain menulis, ia juga pernah jadi  dosen luar biasa di Fakultas Adab IAIN Imam Bonjol Padang (1998) dan Fakultas Sastra Universitas Bung Hatta (1998-1999). Juga kerap menjadi juri untuk lomba  baca dan menulis puisi yang diadakan oleh berbagai lembaga di Sumatera Barat. Kini, kakek satu orang cucu ini, aktif menulis esei dan kritik sastra di berbagai media cetak dan online yang ada.


Sabtu, 25 Oktober 2014

Benny Arnas

Benny Arnas, lahir dan tinggal di Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Puisi-puisinya tersebar di Lampung Post, Riau Pos, Koran Tempo, dan sejumlah antologi bersama. Puisinya Perempuan yang Dihamili oleh Angin meraih Juara III Krakatau Award 2009.












Benny arnas, siapa yang tidak mengenal sosoknya ini? Mungkin beberapa dari kalian tidak mengenalnya, karena mungkin ketidaktahuaan informasi tentang penulis yang satu ini atau karena kebanyakan kalian hanya penikmat karya-karya pop yang menjamur di pasaran saat ini . Padahal endingnya pun bisa di tebak sangking dangkalnya narasi dalam karya itu. Ya, dia adalah pengarang muda dari paling banyak mendapatkan penghargaan.

Karya-karyanya banyak mengobrak-abrik Koran besar di Indonesia, sepanjang tahun 2009-2010. Kesemuaanya merupakan kumpulan cerpen dari buku “Bulan Celurit Api” sebut saja; Dua Beranak Temurun dikoran Kompas, Tukang Cerita di Republika, Hari Matinya Ketip Isa di Tempo, Surat Sajak Yang Mengantarmu Pulang di Jurnal nasional dan Bulan Celurit Api, sendiri di Suara Merdeka.

Benny Arnas juga di sebut-sebut pengusung sastra kampung halaman. Yaitu sastra yang lahir berdasarkan pengalaman hidup sehari-hari pengarangnya. Karya yang membawa unsur lokal dari daerah tempat dimana pengarang lahir dan tumbuh besar, yang dieksploitasi secara cerdas dan oportunitis oleh penulis. Karyanya begitu syarat dengan kritik sosial budaya, di Lubuk Linggau.

Salah satu karya yang saya bahas disini adalah kumpulan cerpenya yang berjudul “Bulan Celurit Api” yang banyak mendapat penghargaan. Penghargaan dari Balai Bahasa maupun Pena Awards.

Membaca cerpen ini, mungkin butuh waktu yang cukup lama untuk mengerti apa jalur ceritanya dan mengulang-ulang beberapa kali membaca teks keseluruhan. Jujur, hanya sedikit yang dapat aku pahami dari bahasanya, karna kebanyakan menggunakan bahasa lokal dan melayu. Bisa didapati ketika para tokoh berdialog maupun bahasa pengarang sebagai pengamat.

Membaca karya Benny Arnas ini, seperti membaca buku-buku terbitan Balai Pustaka. Seperti karya-karya Abdoel moes(salah asuhan), Idrus (Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma) atau seperti halnya membaca hikayat-hikayat jaman dulu.

Jangan heran ketika membaca cerpen ini maupun karya-karya Benny Arnas lainya, tidak akan mendapati cerita bagaimana seorang remaja ketika jatuh cinta, atau bagaimana seorang cewek sedang naksir cowok ganteng yang padahal kakak seniornya atau kesedihan ditinggal sahabat dekat dan cerita remaja lainya. Karena kebanyakan ceritanya ber-genre fiksi dewasa.

Tidak ada salahnya kita menikmati karya yang satu ini, setelah kita merasa bosan dengan karya-karya yang itu-itu terus. Kebanyakan jakarta sentris lengkap dengan logat “lue-gue” dengan narasi-narasi dangkal. Tidak semua tapi sebagian besar. Memang, kenyataan ini tidak bisa disalahkan sebab karya-karya semacam itu lahir karena tuntunan pasar. Karya ini merupakan karya unik, jarang diera ini ada yang nulis cerita dengan menggunakan bahasa lokal dan logat melayu yang di angkat dari lokalitas.

Cerpen ini memuat kritikan yang sangat pedas terhadap sosial budaya yang mulai tergeser nilai-nilainya dengan budaya asing. Contoh pada kutipan berikut:

Dan… ketika malam meninggi, entah apakah karena usia yang melamurkan telinga dan mata, atau memang ia harus sadar bahwa dunia bukan lagi sangkarnya, apa-apa yang dipidatokan Haji Makmun dengan setengah berteriak itu tiada dimengertinya. Pun mereka yang makan minum sambil berdiri itu, dan… Ya Rahman, joged-jogedan di atas panggung tarup orkes….
“Ayo… lanjut! ‘Kucing garong’!!!”

Mak Muna sebagai tokoh utama, disini Mak Muna sedang di undang oleh Haji Makmun sebagai pencalonan kepala desa. Membayangkan akan ada acara anak-anak memainkan sandiwara Dul Muluk atau pasangan muda-mudi menggayung sambut pantun adat. Taetapi sayang, yang terjadi malah orkes dangdut yang memainkan lagu “kucing garong”. Haji Makmun sendiri yang menyuruh. Haji?? Ya Haji, calon kepala desa pula.

Tetapi lebih geli lagi dengan kritikan dalam kutipan berikut ini:

Mak Muna salah lagi. Benar-benar tak paham ia. Walaupun hampir tak pernah ikut berkumpul dengan anak-menantu-cucunya berhahak-hihik atau bersedu-sedan atau… ya berjoged-joged di depan televisi, tapi… apanya yang bagus-bagus, bila cucunya yang bernama aneh-aneh itu —Alberto, Isabela, dan… uuuh, Mak Muna sendiri susah mengingatnya— susah sekali diajak sembahyang. Ah, induk-induknya pun tak sembahyang!

Tak perlu saya jelaskan lebih rinci lagi, bagaimana penulis mengkritik sosial budaya orang Lubuk Linggau. Semogga kritikan sederhana ini dapat memberikan sedikit informasi kepada pembaca khususnya penikmat sastra. Sastra Remaja maupun dewasa. (pen. Joni Jaka)




Jumat, 24 Oktober 2014

Hermawan Aksan




Hermawan Aksan (lahir di Desa Jipang, Kecamatan Bantarkawung, Brebes, Jawa Tengah pada 13 Desember) adalah penulis yang banyak menghasilkan karya baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Sunda. Cerita-cerita pendek dan esainya yang berbahasa Indonesia dimuat di sejumlah media massa.

Pernah bekerja sebagai editor bahasa pada Tabloid Detik, Bola, Raket, dan Detak. Kini menjadi redaktur di Harian Tribun Jabar. Pernah diundang menjadi peserta Ubud Writers and Readers Festival 2010 dan Borobudur Writer and Culture Festival 2012.

Buku-buku yang sudah diterbitkan kumpulan cerpen Sang Jelata (Grasindo, 2004) Ketika Bulan Pucat, Dia Pergi Seperti Angin (Saroba, 2009), Lelaki yang Terus Mencari Sumbi (Indie Book Corner, 2011), dan Madirda (SkylArt, 2012); novel Dyah Pitaloka, Senja di Langit Majapahit (C Publishing, 2005), Niskala, Gajah Mada Musuhku (Bentang Pustaka, 2008), Cinta Empat Bab (Kakilangit, 2009), Cincin Cinta Miss Titin (Kakilangit, 2009), dan serial Jaka Wulung (Bentang Pustaka, 2013); serta 20-an buku nonfiksi. 

***

Hermawan Aksan, mungkin bukan nama yang berkibar-kibar di belantara penulisan fiksi kendati telah lahir sedikitnya sepuluh buah buku dari tangannya. Lelaki pendiam yang telah senang menulis sejak di bangku SMP ini beberapa kali bahkan pernah memenangi sayembara menulis carpon alias carita pondok, bahasa Sunda untuk cerpen (cerita pendek). Salah satunya menjadi jawara dalam ajang lomba carpon mini yang diselenggarakan oleh Yayasan Jendela Seni (2002) dengan karyanya yang berjudul Ti Pulpen Tepi ka Jaratan Cinta. Artinya kira-kira dari pulpen sampai ke jeratan cinta.“Waktu SMP itu aku baru nulis-nulis untuk buku harian (diary) dan majalah dinding saja”, papar Hermawan Aksan mengenang awal mula karier kepenulisannya. “Dan mulai seriusmenekuninya kira-kira tahun 1989 atau 1990”, jelasnya lebih lanjut.Meskipun ia mengaku agak terlambat memulai, namun sejak itu cintanya telah tertambat tanpa ampun pada bidang ini. Seperti kebanyakan kisah para penulis, Her–begitulah ia disapa para karibnya–mengawali karier menulisnya dari kesenangan membaca, terutama cerita pendek. Maka tak heran jika karya pertama yang dihasilkannya adalah sebuah cerpen remaja yang dimuat di majalah Anita Cemerlang. Bagi generasi angkatan 80-an, nama majalah kumpulan cerpen ini telah menjadi ikon tersendiri yang turut menandai keberadaan angkatan “tua” tersebut.Selanjutnya, karya-karya pria berusia 43 tahun ini terus mengalir, menghiasi halaman-halaman sastra pelbagai koran dan majalah, dalam bahasa Indonesia maupun Sunda. Tak hanya fiksi tapi juga esai, ulasan buku, kritik sastra, dan kolom.“Bagiku, sama asyiknya menulis fiksi ataupun nonfiksi. Tapi, aku selalu gagal dalam menciptakan puisi. Entah kenapa, sepertinya tak pernah bisa menemukan kata-kata puitis untuk dijadikan puisi”, ujar ayah dua orang putri ini.Her yang sempat mencicipi bangku kuliah di jurusan Astronomi Institut Teknologi Bandung(ITB) ini rupanya tak puas jika cuma menulis cerpen. Maka, ia pun mulai menulis novel (buku). Buku debutannya adalah sebuah novel anak-anak berjudul Bertamasya Ke Angkasa Luar (1993).Adapun tentang kegemarannya akan sastra Sunda, bukan saja disebabkan sejak kuliah sampai sekarang ia tinggal di Bandung yang banyak memakai bahasa Sunda dalam pergaulan sehari-hari, namun pula karena ia memang (merasa sebagai) orang Sunda. Ia lahir di Desa Jipang, Kabupaten Brebes, yang terletak di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Masyarakat di sana berbahasa Sunda, meski dalam dialek yang sedikit lebih “ngoko” (kasar) dari Sunda Priangan. Masa kecilnya banyak dilalui dengan menonton wayang golek, sandiwara Sunda, serta kesenian Sunda lainnya.Hal ini pula agaknya yang lantas membuatnya tertarik mengangkat figur perempuan cantik dari Tanah Sunda, Dyah Pitaloka, ke dalam novel berjudul sama. Novel yang berkisah juga ihwal Perang Bubat–perang ‘legendaris’ antara orang Sunda dan orang Jawa–ini terbit dua tahun lalu. Kabarnya Her tengah merencanakan membuat sekuelnya dengan tokoh sentral Raden Wastukencana, adik lelaki Dyah Pitaloka, yang kelak menjadi Raja Sunda mengembalikan kejayaan sang ayah yang gugur di padang Bubat.Dalam setiap proses kreatifnya, Her kerap dipengaruhi oleh banyak hal. Mulai dari peristiwa sehari-hari, teman-teman di kantornya, keluarganya, sampai dengan buku-buku yang dibacanya. Termasuk juga gaya bertutur para pengarangnya, walaupun ia baru menyadarinya belakangan.“Aku tidak tahu mengapa demikian. Semuanya seperti terjadi di luar kesadaran”, Her memberi alasan, “Ketika aku membaca (karya-karya) Arswendo, aku terpengaruh Arswendo. Tatkala selesai membaca Manusia Kamar, aku terpengaruh Seno (Gumira Ajidarma). Kemudian saat menikmati Orang-Orang Bloomington, akupun terpengaruh Budi Darma”, sambungnya sembari tersenyum simpul. Soal pengaruh-memengaruhi mungkin hal yang lazim di kalangan para penulis. Bukan mustahil kiranya jika Hermawan pun memiliki pengaruh juga untuk penulis-penulis lain. Itu biasa dan sah-sah saja, bukan, asal tidak lalu menjadi plagiat.Di samping sibuk sebagai redakur di harian Tribun Jabar, Her masih sempat pula sesekali menyunting dan menerjemahkan novel-novel asing. Menurut lelaki berbintang Sagitarius ini, banyaknya novel asing menyerbu pasar buku kita seharusnya bisa dilihat sebagai sesuatu yang positif sepanjang disertai pemilihan karya yang bagus dan penerjemahan yang baik. Her meramalkan untuk tahun ini tampaknya novel-novel “timur” masih akan mendominasi.Sekian lama malang-melintang di jagat sastra, Her barangkali sudah lupa buku pertama yang dibacanya. Tetapi ia masih dapat mengingat dengan baik buku-buku yang mengesankannya. Salah sebuahnya adalah Nagasasra dan Sabuk Inten karya S.H.Mintardja. Ia juga diam-diam menyimpan keinginan untuk kelak bisa bersua dengan Djenar Maesa Ayu dan Tanti R.Skober. Nama yang disebut belakangan ini adalah penulis yang cerpen dan esai-esainya sempat bikin gempar pada tahun 1990-an. Her penasaran di mana gerangan sang pengarang idola berada kini? Kalau dengan Djenar, apa ya kira-kira yang membuatnya ingin berjumpa?Suami dari Eka Suheryani ini selain membaca ternyata punya hobi lain lagi: sepak bola. Bukan hanya sebagai penonton tetapi juga pemain. Di tim kantornya, ia dipercaya sebagai kiper andalan. Keinginannya dalam hidup ini kiranya tak muluk-muluk: “Membahagiakan istri dan anak-anakkku.”Lantas bagaimana dengan profesinya selaku penulis? Sampai kapan ia akan menekuni bidang ini? “Sampai aku tak bisa lagi berpikir”, katanya mantap. Baiklah, kita doakan saja semoga akan terus lahir karya-karya yang baik darinya.













Kamis, 23 Oktober 2014

Rusli Marzuki Saria

H. Rusli Marzuki Saria yang akrab dipanggil “Papa” lahir di Kamang, Bukittinggi 26 Februari 1936.Dia dibesarkan di tengah keluarga dan lingkungan pedesaan Minangkabau yang sarat dengan tradisi ajaran Islam. Nama belakangnya, Marzuki Saria berasal dari nama ayahnya, Marzuki. Papa, anak laki-laki satu-satunya dari 17 bersaudara. Rusli menamatkanSD di Lubuak Basilang, Payakumbuh setelah meninggalnya ibunda tercinta di tahun 1946. Pada tahun 1953 menamatkan SMP (sore) dan pada tahun yang sama ayahanda beliau meninggal. Pap menamatkan SMA bag. A pada 1957.
Pernikahan Papa dengan Haniza Musa, 4 Mei 1963, dikaruniai empat orang anak. Dua laki dan dua perempuan. Nama-nama anak Papa Fitri Erlin Denai (Padang, 23 Januari 1964), Vitalitas Fitra Sejati (Padang, 24 Januari 1966), Satyagraha (Kamang, 20 Juli 1968, dan Diogenes (Padang, 14 Mei 1970).
Sedangkan dunia kepenyairan papa sudah dirintis dari 1957. Karya-karya Papa sudah beredar semenjak 1957. Papa telah menulis di majalah Indonesia, Konfrontasi, Panji Masyarakat, Budaya Jaya, Mimbar, Basis, Horison, Majalah Zaman Baru, Aman Makmur, Respublika, Sinar Harapan, Suara Karya.
Papa telah menerbitkan buku sajak Pada Hari Ini, Pada Jantung Hati (Penerbit Genta Padang). Monumen Safari: Antologi Berempat (Penerbit Genta Padang, 1996), Ada Ratap, Ada Sunyi (Penerbit Puisi Indonesia, Jakarta, 1976), Tema-tema Kecil (Penerbit Puisi Indonesia, Jakarta, 1976), Sendiri-sendiri, Sebaris-sebaris, dan Sajak-sajak Bulan Pebruari (Penerbit Puisi Indonesia, Jakarta, 1976), Sembilu Darah (Lima kumpulan sajak, Dewan Kesenian Sumbar dan pustaka Sastra, Jakarta, 1996), Parewa: Sajak Dalam Lima Kumpulan (1960-1992) (Penerbit, Grasindo, 1998). Mangkutak di Negeri Prosa Liris (Penerbit, Grasindo, 2010).
Pada tahun 1953 dia diterima menjadi pegawai negeri sipil di kepolisian Sumatera Tengah di Bukittinggi. Rusli diangkat menjadi calon Clerk (juru tulis) golongan III A di kantor Koordinator Mobiele Brigade (Mobbrig) korsp 106 Sumatera Tengah. Pada tahun 1958 ketika terjadi pemberontakan PRRI (permesta Perang Revolusi Republik Indonesia-Perlawanan Rakyat Semesta), Rusli Marzuki Saria dipecat dari kepolisian karena terlibat daerah Sumatera Tengah. Sejak tahun 1962 bekerja sebagai tenaga tata usaha di koperasi Batik Fajar Putera sampai tahun 1969. 
Papa bergabung dengan Haluan semenjak 1969, barulah bulan Juli 1999 pensiun setelah 30 tahun berkarir sebagai wartawan. Mantan Redaktur Haluan yang sangat apresiatif terhadap para penyair-penyair muda ini telah mengunjungi manca Negara dengan profesi sebagai penyair dan wartawan. Dia telah mengunjungi Malaysia, Bangkok, Singapura,Australia (Townsvils, Cairs), Jerman Barat (Frankfurt, Koln, Munich, Berlin Barat, Hamburg). Menerima hadiah sastra 1997 dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, dengan kumpulan sajak Sembilu Darah. Mantan Agen Polisi Kepala (Brimob), Pernah menjabat sebagai anggota DPRD tingkat II Padang.*
Guru Tulis





Followers